Skip to content

Ulasan Produk dan Gaya Hidup

  • Home

Otak Manusia Tidak Dirancang Menerima Kabar Buruk Tanpa Henti, Tapi Doomscrolling Membuat Itu Terjadi Setiap HariDari Kebiasaan Kecil yang Lama-Lama Menguras Pikiran

May 24, 2026 by admin

Banyak orang kini merasa media sosial sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Sedikit waktu kosong langsung diisi dengan membuka ponsel dan melihat timeline.

Awalnya mungkin hanya ingin mencari hiburan ringan atau mengecek informasi terbaru. Namun beberapa menit kemudian, pengguna sudah berpindah dari satu video ke video lain, dari satu berita ke berita berikutnya.

Tanpa sadar, sebagian besar isi timeline justru dipenuhi kabar buruk.

Konflik dunia, berita kriminal, kecelakaan, komentar panas, isu ekonomi, hingga drama internet terus muncul tanpa jeda. Ketika aplikasi ditutup, kepala terasa lebih penuh dibanding sebelumnya.

Fenomena inilah yang dikenal sebagai doomscrolling.

Istilah tersebut menggambarkan kebiasaan mengonsumsi konten negatif secara terus-menerus melalui media sosial atau internet. Dalam beberapa tahun terakhir, para peneliti mulai melihat kebiasaan ini sebagai masalah serius yang berkaitan dengan kesehatan mental modern.

Media Sosial Membuat Informasi Tidak Pernah Benar-Benar Berhenti

Dulu, orang membaca berita pada waktu tertentu lalu berhenti menjalani aktivitas lain. Kini arus informasi berjalan hampir sepanjang hari.

Media sosial membuat pengguna bisa menerima kabar baru setiap detik tanpa jeda.

Masalahnya, platform digital modern dirancang untuk mempertahankan perhatian pengguna selama mungkin. Ketika seseorang sering membuka konten tertentu, algoritma akan terus menampilkan materi serupa agar pengguna tetap scrolling lebih lama.

Akibatnya, timeline perlahan dipenuhi konten yang memancing emosi dan rasa penasaran.

Secara psikologis, kondisi tersebut diperkuat oleh cara kerja otak manusia sendiri.

Dalam psikologi, terdapat istilah negativity bias, yaitu kecenderungan manusia untuk lebih fokus pada ancaman dan hal negatif dibanding informasi positif.

Otak menganggap kabar buruk sebagai sesuatu yang penting diperhatikan demi keselamatan. Karena itu, berita konflik atau tragedi terasa lebih menarik perhatian dibanding kabar biasa.

Kombinasi antara algoritma media sosial dan respons alami otak membuat doomscrolling menjadi semakin sulit dihentikan.

Penelitian Menemukan Hubungan dengan Turunnya Kesejahteraan Hidup

Laporan terbaru dari Wellbeing Research Centre di University of Oxford menemukan adanya kaitan antara penggunaan media sosial berlebihan dengan menurunnya wellbeing atau kesejahteraan hidup.

Peneliti Michael Plant menjelaskan media sosial sebenarnya masih dapat memberi manfaat jika digunakan secara seimbang. Platform digital membantu seseorang tetap terhubung dengan keluarga, teman, dan lingkungan sosial.

Namun penelitian menunjukkan semakin lama waktu yang dihabiskan di media sosial, semakin besar pula penurunan kesejahteraan mental yang dirasakan pengguna.

Dampak tersebut paling terlihat pada kelompok usia muda di bawah 25 tahun di negara-negara seperti Amerika Serikat, Inggris, Kanada, dan Australia.

Dalam satu dekade terakhir, tingkat kebahagiaan kelompok usia muda di negara-negara tersebut mengalami penurunan bersamaan dengan meningkatnya penggunaan media sosial dalam kehidupan sehari-hari.

Para peneliti menilai budaya scrolling tanpa tujuan menjadi salah satu faktor yang ikut memperkuat kondisi tersebut.

Pikiran Jadi Sulit Merasa Aman dan Tenang

Salah satu dampak terbesar doomscrolling adalah otak yang terus menerima sinyal ancaman meski tubuh sedang berada di tempat aman.

Saat seseorang terus melihat berita kriminal, perang, krisis ekonomi, atau komentar negatif, tubuh akan berada dalam kondisi siaga lebih lama.

Akibatnya, banyak orang mulai merasa cepat lelah secara emosional.

Berbagai penelitian menemukan doomscrolling berkaitan dengan meningkatnya stres, kecemasan, rasa takut berlebihan, hingga suasana hati yang memburuk.

Tidak sedikit pula pengguna media sosial yang mulai merasa dunia dipenuhi masalah tanpa akhir karena terlalu sering terpapar konten negatif setiap hari.

Dalam jangka panjang, kondisi tersebut dapat memengaruhi fokus, motivasi, dan kesehatan mental secara keseluruhan.

Budaya Membandingkan Diri Membuat Tekanan Semakin Besar

Selain paparan berita negatif, media sosial juga dipenuhi pencapaian dan kehidupan orang lain yang terlihat sempurna.

Tanpa sadar, banyak pengguna mulai membandingkan hidup mereka dengan apa yang dilihat di internet.

Melihat orang lain terlihat sukses, bahagia, produktif, atau memiliki gaya hidup tertentu dapat memicu rasa tertinggal dan tidak puas terhadap diri sendiri.

Ketika kondisi mental sedang lelah, kebiasaan membandingkan diri ini bisa memperparah tekanan emosional.

Media sosial akhirnya bukan lagi tempat mencari hiburan, tetapi berubah menjadi sumber kelelahan mental yang terus berulang.

Kualitas Tidur Jadi Salah Satu Korban Utama

Doomscrolling juga sangat berkaitan dengan kualitas tidur yang memburuk.

Banyak orang memiliki kebiasaan scrolling sebelum tidur sambil berkata hanya ingin melihat media sosial sebentar. Namun konten yang terus muncul membuat waktu penggunaan menjadi jauh lebih lama dari perkiraan.

Paparan cahaya layar pada malam hari membuat otak tetap aktif sehingga tubuh lebih sulit masuk ke fase istirahat.

Akibatnya, seseorang menjadi lebih susah tidur nyenyak meski tubuh sebenarnya sudah lelah.

Kurang tidur dalam jangka panjang dapat memengaruhi konsentrasi, produktivitas, suasana hati, hingga kesehatan fisik secara keseluruhan.

Beberapa ahli kesehatan juga mengaitkan doomscrolling dengan sakit kepala, kelelahan mata, nyeri leher, dan meningkatnya hormon stres akibat paparan informasi berlebihan.

Tidak Semua Waktu di Depan Layar Selalu Buruk

Meski begitu, para ahli menegaskan bahwa teknologi tidak selalu menjadi penyebab utama masalah mental.

Aktivitas seperti belajar kemampuan baru, membaca materi edukasi, melakukan video call dengan keluarga, atau bermain game bersama teman tetap dapat memberi manfaat sosial dan emosional.

Yang menjadi persoalan adalah penggunaan media sosial secara kompulsif tanpa tujuan jelas.

Profesor psikologi dari University of Reading, Netta Weinstein, menjelaskan penggunaan teknologi yang sehat terjadi ketika seseorang masih merasa memiliki kontrol terhadap aktivitas digitalnya.

Sebaliknya, penggunaan menjadi tidak sehat ketika seseorang merasa sulit berhenti atau memakai media sosial sebagai pelarian dari masalah kehidupan nyata.

Memberi Jeda untuk Pikiran Kini Semakin Penting

Di tengah kehidupan modern yang dipenuhi notifikasi dan arus informasi tanpa henti, kemampuan mengatur konsumsi digital kini menjadi bagian penting dalam menjaga kesehatan mental.

Para ahli menyarankan beberapa langkah sederhana seperti membatasi waktu media sosial, mengurangi scrolling sebelum tidur, mematikan notifikasi yang tidak penting, hingga memperbanyak aktivitas di dunia nyata.

Mengganti waktu scrolling dengan membaca buku, olahraga ringan, belajar kemampuan baru, atau sekadar berjalan santai tanpa ponsel juga dinilai membantu mengurangi kelelahan mental akibat paparan konten negatif berlebihan.

Karena pada akhirnya, otak manusia tidak dirancang untuk menerima begitu banyak kabar buruk tanpa henti setiap hari.

Categories Berita Utama, Gaya Hidup (Lifestyle), Kesehatan Tags anxiety, doomscrolling, generasi z, kecanduan media sosial, kecemasan digital, kesehatan mental, media sosial, mental health, overthinking, scrolling tanpa henti, stres digital, toxic social media
Akun Instagram Bisa Diretas Tanpa Anda Sadari, Hacker Kini Memakai Cara yang Semakin Sulit Ditebak

Recent Posts

  • Otak Manusia Tidak Dirancang Menerima Kabar Buruk Tanpa Henti, Tapi Doomscrolling Membuat Itu Terjadi Setiap HariDari Kebiasaan Kecil yang Lama-Lama Menguras Pikiran
  • Akun Instagram Bisa Diretas Tanpa Anda Sadari, Hacker Kini Memakai Cara yang Semakin Sulit Ditebak
  • Dulu Orang Malu Ngaku Pakai ChatGPT, Sekarang Malah Dipakai buat Hampir Semua Hal
  • Hantavirus Muncul di Kapal Pesiar Mewah, 3 Penumpang Tewas dan Dunia Mulai Khawatir
  • 7 Kebiasaan Harian yang Menentukan Penuaan Sehat dan Hidup Tetap Aktif
© 2026 Ulasan Produk dan Gaya Hidup • Built with GeneratePress